The EarthGuard Legend – 2. First Quest: Talk to First Elder


“Ding! Kamu telah menerima Quest Berbicara Dengan First Elder ”

Nu tersenyum saat membuka jendela quest-nya. Nu mendapatkan quest yang sangat mudah, hanya menemui first elder dan berbicara dengannya.

“Ha ha ha, langsung naik level 2. Asyikkk!”

=========================================
Quest Berbicara Dengan First Elder
=========================================

Temui dan berbicara dengan first elder.

Waktu: 2 hari 23 jam 59 menit 59 detik
Reward: 1000 EXP
Penalti: Level -2
=========================================

“Hei Nu, sepertinya kamu mendapatkan quest yang mudah?”, suara pelatih Meng membuyarkan lamunan Nu.

“Iya pak pelatih, gampang sekali”

“Gampang? Coba perlihatkan questnya”

Nu mengangguk dan menekan tombol Share > Pelatih Meng > OK

“Gimana, gampang kan?” kata Nu sambil senyum-senyum.

“Gampang sih, tapi sayang, first elder sedang tidak ada di desa”

“Hah…, first elder kemana?”

“Sudah sebulan yang lalu first elder melakukan latihan di kuil Gunung Utara”, kata Pelatih Meng lalu tersenyum simpati.

“Semoga beruntung,” sambungnya dan menepuk pundak Nu. Lalu beranjak pergi.

Mendengar itu, bibir Nu langsung berubah aneh. Antara tersenyum dan nyengir.

Kuil Gunung Utara adalah kuil terpencil diatas puncak Gunung Utara, meskipun tidak terlalu tinggi dan hanya berjarak beberapa puluh kilometer, jalan menuju puncak tidaklah mudah. Gunung Utara dihuni monster level 1-5 dan hutan yang rapat. Untuk menuju kuil, tidak ada jalan khusus. Jalan paling cepat menuju Kuil Gunung Utara adalah menggunakan Flying Spiritual Beast. Meskipun bisa ditempuh dengan jalan kaki, waktunya mencapai 2 hari atau lebih. Di desa, hanya para elder dengan level 29 ke atas yang memiliki flying spiritual beast.

Nu, memperhatikan sekelilingnya, diantara beberapa temannya ada yang sudah membentuk team. Meskipun Nu sudah memasang flag “Mencari Team Berbicara Dengan First Elder”, tak ada yang menghampiri. Sepertinya, hanya Nu yang mendapatkan quest ini.

Tak ada pilihan lain, Nu memutuskan untuk pulang ke rumah dan menyiapkan perbekalan naik gunung.
Dalam perjalanan pulang, Nu membeli makanan kering, air kemasan, health potion, mana potion, light armor set level 1 dan lain-lain.

Nu tak mau membuang-buang waktu, karena penaltinya adalah Level -1 dan waktunya hanya 3 hari. Jika Nu berangkat sekarang, Nu yakin bisa menyelesaikan quest ini. Meskipun masih level 1, kemampuan bertarung EarthGuard termasuk bisa diandalkan karena sudah diajarkan di sekolah desa sejak usia 10 tahun.

Satu jam kemudian, Nu terlihat berjalan ke luar desa menuju arah utara, Yuna, ibunya menemani sampai batas desa. Sampai batas desa, Nu melanjutkan dengan berlari cepat, hampir-hampir seperti terbang.

Begitu sampai di pinggir Hutan Gunung Utara, Nu mengurangi kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan. Nu mengambil pedang kayu besi dari tas Spatial dan membaca informasinya.

=================================================
Pedang Kayu Besi
=================================================
P. Attack: 100
M. Attack: 100

Pedang pemula, terbuat dari kayu besi yang keras

Syarat:
Level 0

Harga: 50 Copper
=================================================

Dengan Pedang Kayu Besi ini ditambah damagenya yang 1100, Nu bisa mudah membunuh monster level 1 dengan 5-6 kali tebasan. Tentu saja tanpa memperhitungkan defense monsternya. Dalam kasus-kasus tertentu, user bisa membunuh monster dengan sekali pukul jika mengenai weak point sekaligus mendapatkan critical damage.

Dua ratus meter dari pinggir hutan, suasana mulai berubah. Suhu udara semakin gerah. Pohon-pohon mulai rapat dan cahaya matahari semakin berkurang, padahal jam di jendela status masih menunjukkan pukul 13.35 siang.

Nu memantapkan hatinya dan terus melangkah, meskipun ini pertama kalinya Nu memasuki Hutan Gunung Utara, Nu sudah sering berlatih di Hutan Latihan sekolah desa. Sampai saat ini, Nu belum menemukan satupun monster.

Dua jam kemudian, Nu membunuh monster pertamanya, Babi Hutan Bertaring Level 1, memberinya 10 Exp. Untuk menghemat waktu, Nu mengabaikan babi hutan itu, meskipun dagingnya bisa dimakan dan kulitnya bisa dijual, tapi akan memakan waktu untuk menguliti dan memotong dagingnya. Lagipula, menambah beban bukan prioritas Nu, apalagi kapasitas tas spatial Nu terbatas.

Nu hanya membersihkan sisa darah monster dari pedang agar tidak menarik perhatian monster lainnya, lalu melanjutkan perjalanan. Selain monster babi hutan tadi, Nu juga membunuh dua monster lagi, kemudian mencari tempat tidur diatas pohon, karena hari sudah beranjak malam dan cahaya matahari mulai menghilang.

Pada waktu Nu, sedang mempersiapkan tempat tidurnya, Pelatih Meng sedang berbincang sambil minum teh dengan seorang laki-laki tua berwajah gembira.

“First Elder, apakah Nu akan mampu menyelesaikan quest ini?, saya khawatir sekali”

“Jangan khawatir, quest ini akan menunjukkan apakah Nu benar-benar seperti yang kita harapkan”

“Tapi First Elder, mengapa anda tidak menunggu Nu di Kuil Gunung Utara?”, tanya Pelatih Meng

“Tentu ada maksudnya, he he he. Kamu tidak usah khawatir, saya sudah mengutus Hopeng untuk mengawal Nu diam-diam. Pasti aman”

Pagi harinya, setelah sarapan makanan kering dan melakukan latihan singkat, Nu melanjutkan perjalanan. Dengan mengaktifkan mini map, Nu berjalan menuju utara. Kali ini, jalan mulai menanjak. Satu setengah hari lagi, Nu akan tiba di Kuil Gunung Utara.

Baru 10 menit berjalan, Nu diserang monster Ular Hijau Level 2 yang melompat tibda-tiba dari dahan pohon. Meskipun kecil dan tidak berbisa, gigitan ular ini akan menyebabkan luka yang terus mengurangi HP. Meskipun serangan mendadak, Nu sigap menebas Ular hijau di lehernya. Hanya sekali tebas, kepala ular terpisah dari badannya.

Singkat kata, hampir setiap jam ada saja monster yang menyerang Nu. Tidak semua monster dilawannya, hanya yang menyerang saja. Nu menghindari menyerang monster yang belum menyerang, apalagi jika levelnya, level 3 ke atas. Nu memilih untuk mengambil jarak dan memutar daripada menghabiskan waktu sia-sia.

Sekali lagi, Nu bermalam di hutan. Kali ini Nu menemukan gua kecil yang bersih, nampaknya tidak ada hewan yang menjadikannya sarang. Setelah memberi penghalang di pintu gua, Nu berlatih sebentar sebelum tidur.
Malam itu tidak ada apapun yang mengganggu. Hanya suara-suara hewan malam yang membuat Nu terbangun karena tidak biasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s