Jingke si Telapak Tangan Besi


Suatu hari Jingke menemukan sebuah buku di jalan pulang menuju rumahnya. Buku itu berjudul Pukulan Telapak Tangan Besi. Pengarang buku ini entah siapa, lebih-lebih pemiliknya, Jingke tidak tahu.

Buku ini penuh dengan gambar, tulisan hanya sedikit, hanya tulisan judul di atas gambar. Bagaimana cara mempelajari jurus-jurus yang diperagakan gambar tidak ada sama sekali.
cersil pendek jingke si telapak tangan besiTetapi setelah Jingke mencoba melakukan gerakan seperti gambar di buku, gerakan-gerakan yang dilakukan Jingke menyerupai sebuah jurus. Hanya saja Jingke tidak yakin apakah gerakannya bisa mengenai musuh.
Meskiun demikian Jingke tetap menghapal dan melatih gerakan-gerakan di dalam buku, hampir setiap hari, karena Jingke seorang pengangguran.

Tak terasa setahun sudah Jingke melatih gerakan-gerakan di dalam buku, walaupun tidak pernah mencoba apalagi terlibat perkelahian, tubuh Jingke mengalami perubahan, lebih berotot, lebih berisi. Jalannya mulai tegap, tidak lagi menunduk seperti layaknya orang pengangguran.

Suatu hari, saat sedang duduk-duduk di warung langganannya, Jingke melihat seorang gadis berteriak “Copettt!”. Seorang laki-laki tinggi besar berlari ke arah Jingke, tatapan mata laki-laki itu berbahaya.
Tetapi entah mengaa, ketika pencopet itu hampir melewati Jingke, tangan Jingke bereaksi, memukul ke arah dada dengan kedua telapak tangan terbuka seperti sayap kupu-kupu, sementara kaki kanan di depan dan kaki kiri menjejak tanah kuat-kuat.

Seseorang terlempar, pencopet itu terkapar.

Orang-orang datang mengerumuni. Bukannya mengerumuni si pencopet, tetapi Jingke. Semua orang tahu siapa pengangguran Jingke, manusia tak berguna yang selalu menghabiskan waktunya di depan warung sambil merokok.

Tepuk tangan terdengar, puji-pujian teruar, geleng-geleng kepala tak percaya, pemuda seperti Jingke bisa memukul roboh pencopet berbadan besar lebih dari dirinya.

Sejak hari itu, orang-orang tidak lagi meremehkan Jingke. Pemuda-pemuda pengangguran lainnya mulai memanggilnya abang, bahkan yang umurnya lebih tua sekalipun.
Jingke tambah percaya diri. Beberapa preman sekitar yang mencoba menantang duel, kalah dalam sejurus dua jurus. Pamor Jingke membumbung tinggi, apalagi setelah preman yang dikalahkan Jingke menyerahkan sebagian penghasilannya kepada Jingke. Jingke tak malu-malu menerima setoran preman tersebut. Kapan lagi dapat rejeki nomplok tanpa kerja terlalu keras.

Sejak hari Jingke menjatuhkan pencopet di depan warung, Jingke mendapatkan pacar, itu dia, si gadis yang ditolongnya.

Sejak hari Jingke menggunakan jurus kupu-kupu besi, Jingke menerima beberapa orang murid, anak-anak muda pengangguran di sekitar itu juga.

Jingke yang sekarang, bukan lagi Jingke yang pemalas. Bukan lagi Jingke yang tidak punya cita-cita.
Kepada mereka yang menanyakan rahasia kesuksesan-nya Jingke berani berkata:
“Kerja keraslah, jika ada nasib pasti sukses!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s