Antara Hamba dan Sang Khalik Ada 99 Tirai Yang Menghalanginya


Tulisan pendek ini sedang mencoba menjelaskan sebuah frasa terkenal di kalangan sufi, “Ada 99 tirai yang menghalangi hamba dengan Khalik-nya”. Kebetulan saya sangat suka membaca, salah satu topiknya adalah tentang tasawuf, topik yang diperkenalkan oleh kakek, ayah dan paman-paman saya. Tulisan saya ini laksana tangan saya yang kecil sedang mencoba menutupi langit, tetapi dengan songel (sasak: tanpa rasa malu) saya persembahkan untuk mengingat hari kelahiran saya.

Antara seorang hamba dan Sang Khalik, ada 99 tirai/hijab yang menghalangi si hamba. Sembilan puluh sembilan bukanlah bilangan tertentu yang pasti, tetapi simbol ketidakterbatasan.

Sembilan puluh sembilan tirai menutupi fisiknya, Sembilan puluh sembilan hijab menghalangi hatinya. Sembilan puluh sembilan cobaan menghalanginya di dunia. Sembilan puluh sembilan tirai menghalangi setelah kematiannya.

Tirai pertama yang menghalangi hamba dari melihat Tuhan-nya adalah pengetahuan mengenai-Nya. Jutaan manusia lahir setiap hari, tak satupun mengenali-Nya. Seiring tumbuh dan berkembangnya fisik si hamba, jadilah dia seorang Muslim, Yahudi, Nasrani atau Majusi melalui perantaraan orang tuanya, lingkungannya.
Setelah dia mampu menangkap dengan inderanya dan mendengarkan perkataan “Allah”, terbukalah hijab yang pertama.

Setelah mengenal Allah, mulailah perjalanan si hamba untuk kembali pulang menuju pangkuan-Nya.

Sepanjang perjalanan yang ditempuh hamba, masih banyak hijab-hijab lain yang harus disingkap agar dapat melihat wajah-Nya yang keindahannya tak mampu kata-kata menjabarkannya.

Kurangnya ilmu adalah hijab. Belajar akan membuka hijab. Kemalasan adalah hijab. Istiqamah walaupun amaliah kecil membuka hijab.

Merasa bangga dengan amal (ujub) adalah hijab. Beramal dengan tangan kanan, di malam gelap dan menyembunyikan amal dari tangan kiri akan membuka hijab.

Merasa amalnya sudah bagus dan banyak adalah hijab.

Mengerjakan amal baru tanpa dasar adalah hijab. Merasa amal baru itu baik meskipun tak disetujui atau disanggah Allah (melalui Al-Quran) dan Nabi SAW (melalui hadits) dan Pewaris Nabi adalah hijab.

Prasangka adalah hijab, hilangkan dengan ilmu.

Merasa diri tinggi adalah hijab. Merapikan sandal jamaah dan menumbuhkan kerendahan hati membuka hijab.

Merasa tidak pantas dihadapan-Nya dan malu berdoa adalah hijab.
Merasa dicintai oleh-Nya dan menggampangkan maksiat adalah hijab.
Jangan terbuai oleh sifat maaf-Nya lalu lalai dan tergelincir.
Tetap eling wahai hatiku.

Menulis dan merasa tulisannya luar biasa bagus dan bermanfaat adalah hijab, wahai diriku, jika ini yang muncul dalam hatimu, singkirkanlah.

Harta adalah hijab, tunaikan sadakah dan zakatnya.
Anak-anak adalah hijab, didiklah dengan baik agar membantu membukakan hijab dengan doa-doa mereka.
Istri-istri adalah hijab, perlakukan mereka dengan baik agar menjadi teman berjalanmu, menjadi orang dibelakang yang setali denganmu, menarikmu jika mendekati jurang, menjadi Sam bagimu wahai Frodo.

Kemiskinan adalah hijab, kekayaan adalah hijab. Singkirkan mereka dari hatimu. Jadilah Jenderal Choe Yeong yang memandang emas laksana batu.

Maksiat adalah hijab.
Maksiat yang kecil adalah hijab kecil, singkirkan dengan kalimah subhanallah walhamdulillah allahuakbar lailahaillah lahaula wala quwata illa billah.
Maksiat yang besar adalah hijab besar nan berat, enyahkan dengan taubatan nasuha.
Tinggalkan satu maksiat maka terbukalah satu hijab. Tinggalkan dua, terbukalah dua. Tinggalkan 99 maksiat terbukalah 99 hijab.

Material (kebendaan) adalah hijab, jangkaulah dengan rasa.
Waktu adalah hijab, bersabarlah.

Tirai terakhir di masa hidup hamba adalah kematian. Jika tirai kematian ini sudah terbuka, perjalanan hamba memasuki babak baru. Semakin dekatlah hamba kepada Khalik-nya.

Kubur adalah hijab.
Kiamat adalah hijab.
Kurangnya amal adalah hijab.
Sirath adalah hijab.
Neraka adalah hijab.
Setiap milimeter jarak adalah hijab.

Bersabarlah wahai diriku, kita pasti menemui-Nya, cepat atau lambat.
Selalu monitor dirimu sendiri. Sebelum berbicara pikirkanlah dahulu. Sebelum beramal, carilah ilmunya dulu. Karena agama bukanlah angan-angan dan prasangka tetapi amal.

Wahai diriku, ingatlah itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s