Oleh-oleh dari Jogja: Trans Jogja


Selama 4 hari di Jogja, sejak 29 Sept – 02 Okt 2016 yang lalu, saya banyak menggunakan Trans Jogja untuk keliling kota Jogja, meskipun tidak semua rute saya rasakan.

Hari pertama di Jogja, kami – saya dan 2 orang teman menggunakan bus 2A yang random kami pilih untuk keliling kota Jogja hanya dengan 1 tiket yang kami beli di halte Malioboro 1.

Awalnya kami merasa risih, karena kenek bus sesekali menoleh dan melihat ke arah kami, seolah bertanya, “turun dimana mas?” Tetapi, rupanya kami yang ke-GR-an, si mas kenek bukannya sedang “bertanya”, tetapi sedang menghitung jumlah penumpang, kemudian mencatatnya atau melaporkannya ke petugas di setiap halte.

trans jogja

ilustrasi: bus trans jogja menurunkan penumpang

Satu kali round trip PP dari halte Maliboro 1 hanya dikenakan biaya Rp 3.700,- untuk umum. Untuk yang membeli kartu/berlangganan bisa lebih murah lagi. Trans Jogja sendiri punya 8 route/trayek, yang jika saja kami kuat, kami bisa saja melakukan transit dari 1 trayek ke trayek lainnya hanya dengan bekal 1 tiket tadi, bisa!

Hari ke-2 kami menggunakan Trans Jogja menuju kampus UIN, setor muka acara openSUSE summit karena kami mendaftarnya telat, tidak kebagian kursi, lalu lanjut ke Candi Prambanan.

Disini, kami mendapat pelajaran, betanyalah selalu kepada petugas halte sekalipun sudah merasa pengalaman dengan Trans Jogja. Seperti ketika kami ingin menuju Prambanan dari kampus UIN, kami disarankan naik route 4B (atau 3B karena saya sudah lupa yang mana) lalu transit ke 1A yang menuju Prambanan.

Setelah naik dan muter-muter hampir 1/2 jam, sampailah kami di halte transit 1A, ternyata … halte transit ini letaknya persis di depan pintu masuk UIN, yang mana, jika kami berjalan dari halte naik tadi (kami masuk melalui pintu samping yang dekat halte) hanya makan waktu 5 menit saja.

Pelajarannya adalah, bertanyalah dahulu sebelum membeli tiket! karena jika kita bertanya sesudah membeli tiket, maka solusinya adalah naik bus di halte tersebut dan transit, sekalipun halte transit cuma 5 menit dari halte saat ini.

Pulangnya dari Prambanan, kami naik kembali bus 1A dengan rute Prambanan – Maliboro.

Hari ke-3 dan 4 kami sudah semakin akrab dengan Trans Jogja, kami memanfaatkannya untuk menuju pasar Beringharjo, Benteng vrederbug, Nol Kilometer atau taman Pintar yang tidak terlalu jauh dari penginapan, tetapi bisa membuat kaki “gempor” karena banyak berjalan.

Setelah puas bercerita, saya akan menuliskan mengapa saya menginginkan sistem Trans Jogja diterapkan di NTB atau di provinsi lain di Indonesia.

Trans Jogja memliki 8 rute, yang didesain untuk menjangkau seluruh penjuru jogja, seperti delapan mata angin dengan pariwisata sebagai titik tolak.

Trans Jogja efektif diterapkan di Jogja yang relatif kecil, tetapi jika di terapkan di NTB, NTB terlalu luas untuk menerapkan 1 tiket untuk semua rute se-provinsi. Sebab itu, harus dibuat beberapa modifikasi agar penerapannya bisa efektif.

  1. Rute Trans NTB harus dibagi berdasarkan region berbasis kota/kabupaten. Setiap region memiliki rute sendiri seperti 8 rute Trans Jogja. Untuk transit antar region, penumpang dikenakan biaya tambahan lagi dengan asumsi melakukan perjalanan dari Bima di Sumbawa sana, sampai Lembar di Lombok.
  2. Bus bandara dan rute-rute lain yang saat ini dikelola damri bisa dimasukkan dalam rute Trans NTB, dengan ini effort dan sumber daya yang diperlukan bisa lebih hemat.
  3. Trayek-trayek angkutan kota seperti Bemo kuning atau Carry yang sudah ada, bisa juga dimasukkan dalam satu sistem ini, ini akan meminimalisir clash antara pengusaha swasta dengan Trans NTB dengan target, mengganti seluruh armada carry dan bemo dengan bus.

Untuk hal-hal lain, Trans Jogja sudah memiliki sistem yang bagus seperti

  • Kursi prioritas wanita, lansia ibu hamil dan penyandang cacat
  • Satu tiket untuk semua rute dalam sehari
  • Petugas halte dan kenek bus yang sangat informatif dan siap membantu
  • Jalur Trans Jogja memakai jalur yang sudah ada, menyatu dengan kendaraan lain, tidak seperti busway yang dibuatkan jalur khusus yang menurut saya bagus, tetapi mahal
  • Bus yang nyaman, ber-AC
  • Tarif yang super murah, sangat mendukung pengembangan pariwisata
  • dan hal-hal lain yang tidak sempat saya temukan karena kurangnya interkasi

Demikian oleh-oleh yang saya bawa, semoga Trans Metro bisa menjadi benih Trans NTB yang bisa melampaui Trans Jogja dan trans-trans lain yang sudah ada.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s