Mimpi Aneh Sabtu Dinihari


Dini hari ini aku terbangun dari mimpi yang aneh. Entah mengapa orang-orang yang aku kenal dalam kehidupan sehari-hari memiliki peran yang berbeda dalam mimpi ini.

Alkisah, seperti biasa aku mengunjungi klien untuk mempresentasikan pekerjaan, yang lalu berkembang menjadi menjelaskan apa itu website dan strukturnya.

Disela semangatku yang meluap, ada perasaan yang menusuk.

Ada satu orang, bukan klienku yang terus mengamati. Bukan karena dia tertarik, tetapi karena rasanya dia sedang mencibir dan tersenyum sinis. Lalu berubah menjadi titik air mata.

Dan … meledaklah orang ini, tak sanggup lagi menahan diri mendengarkan ocehanku.

Dia mendekati aku, wajahnya tiba-tiba menjadi wajah yang aku kenali, tangannya menyodorkan aku kartu nama lusuh.

Tertulis di kartu nama itu nama saudaranya, seorang ustadz.
Yang aneh, kartu nama itu kartu nama perusahaan dan nama belakang saudaranya juga berubah, menjadi nama yang identik dengan agama tertentu.

Ternyata saudaranya itu telah murtad. Terjerat paras cantik, murtad dan menikahi putri pemilik perusahaan di kartu nama itu. Dan pemilik perusahaan itu adalah rekan bisnis yang aku kenalkan pada temanku sang ustadz.

Inilah mengapa sebabnya dadaku terasa sakit. Bukan lantaran sayang karena seorang ustadz menjadi murtad saja, tetapi juga lantaran dadaku dipukul dengan tangan perempuan.

Pemilik tangan yang memukul dadaku kini aku kenali, memenuhi pelupuk mataku.
Aku mengenal air matanya.
Aku mengenal tangisnya.
Aku mengenal tiap sudut wajahnya yang sedang kesakitan.
Tapi aku tak mengenal amarahnya.

Baru pertama kali aku melihatnya.
Keadaan inilah momok yang tak ingin aku ulangi. Menyakitinya lagi. Meski hanya dalam mimpi.

Aku mencoba tak menghiraukannya karena ini di tempat publik, aku harus pura-pura tak kenal dan menjaga gengsi.

Tetapi gengsinya sepertinya sudah hilang. Perasaan mungkin sudah menutupi pertimbangannya. Dia mulai menangis bak anak kecil, berguling-guling, membuat aku tak bisa lagi berpura-pura acuh.

Aku mendekatinya, memegang tangannya, menariknya berdiri, menjajarkan bahunya dengan bahuku dan melayangkan sebuah tamparan yang membuatnya berhenti meraung. Tamparan yang mengenyahkan kabut yang menutupi akal sehatnya.

Kini dia menatapku dengan memohon, semoga aku bisa mengobati kesedihannya. Semoga aku bisa mengembalikan kakaknya, semoga aku tidak menghancurkan image sempurna diriku dalam benaknya.

Rupanya aku harus menjadi manusia serba tahu hari ini. Aku menatapnya. Aku menatap orang-orang yang menonton kami.

“Sadarilah, seandainya kamu dan seluruh penduduk langit dan bumi bekerjasama untuk mendatangkan hidayah untuk seseorang, kamu tidak akan sanggup, jika Allah tidak mengehndaki. Begitupun jika seandainya kamu dan seluruh penduduk langit dan bumi bekerjasama untuk menjauhkan seseorang dari agama Allah, kamu tidak akan sanggup selama Allah tidak mengehndaki.

Maka berhentilah bersedih dan menyalahkan dirimu dan diriku wahai perempuan, karena ini bukan salahmu ataupun salahku. Tetapi inilah takdir kakakmu.

Meskipun demikian, pergilah dan menangis di depan kakakmu. Barangkali, dengan tangisanmu kakakmu akan kembali.
Barangkali hati kakakmu sama seperti hatiku, terbuat dari agar-agar jika berada didepanmu.

Meskipun gagal, usaha tetaplah usaha, Allah akan menilai positif setiap usaha untuk merubah takdirNya. Barangkali, suatu hari takdirnya akan berubah lagi, kembali lagi padamu.”


Ampenan 29 November 2014
Ledakan sabtu pagi, Dini hari disertai hujan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s