Perang Cyber Setengah Matang


Bisakah orang Sasak menjadi hacker?

“Mbeeee bau, ngimpi ente ne heb!” [1]

Ketika membaca kalimat pertama di atas, mungkin itu kalimat pertama yang akan terlontar dari kita para perutuk se-Indonesia yang terkenal latah, apalagi dalam soal cibir mencibir 😛

Tapi saya tidak ingin berbicara tentang hacker. Juga tidak akan membahas tentang #anak_dompu atau #aikmel. Saya juga tidak akan bicara bagaimana menjadi hacker.

Saya juga tidak akan bicara apakah serangan kita tepat sasaran atau tidak, karena seperti perang kolosal, salah tusuk dan peluru nyasar merupakan hal yang lumrah.

Kita akan bicara tentang operasi balas dendam anak bangsa terhadap negara-negara usil yang telah dan masih melakukan spying terhadap bangsa ini. Kita akan bicara tentang semangat ngotot yang telah kita warisi turun-temurun.

Spying bukanlah sesuatu yang tabu dilakukan oleh negara manapun. Sejak kelahirannya, negara memiliki pola untuk naik ke puncak kekuasaan dengan menguasai negara lain atau dengan memanfaatkan kelemahannya. Sekalipun negara itu seluas upil, mereka tetap bernafsu untuk menguasai dunia 😛

Jangan berlagak lugu, bahwa kita tidak melakukan aksi mata-mata terhadap negara lain. Apalagi kita dikelilingi oleh negara-negara yang notabene bak vampir melihat mangsa yang bloon dengan darah yang manis.

Spying juga merupakan salah satu pertahanan terhadap pemangsa-pencuri itu.

Kembali soal perang cyber, saya miris melihat kita kehilangan semangat tawuran antar kampung kita. Saat awal melakukan serangan, kita gegap gempita, semangat 45.
Pejabat menyuarakan dukungannya, media meliput besar-besaran dan intensif. Facebook menjadi rame.

Bahkan demam hacking telah merepotkan master-master yang telah alih profesi, misalnya, jadi pesulap 😛

Ketika serangan berhasil, kita cetak headline besar-besar, wawancara-wawancara denan entah siapa, disiarkan di media digital.

Lalu para pembonceng ikut mengacau

Dan serangan balasan datang …

eng i eng ….

Kita lari menuju periuk masing-masing. Kita saling tunjuk.
Kita mulai ketakutan.
Lalu menyalahkan kambing hitam yang kebetulan lewat.

Seharusnya, jika semangat tawuran masih mendarah daging dan peribahasa sekali menyelam sekalian minum air masih terpatri, kita tidak akan lari lintang-pukang, sambil berteriak-teriak. Malah sebaliknya, serangan makin kita perhebat.

Makin digoyang makin hot!

Pejabat kita akan menyambar mikrofon, berdiri tegak di podium, pasang badan, menentang badai menerjang .
Ibu-ibu dan gadis-gadis kita akan membawa pinggan penganan penambah semangat.

Merdeka atau mati!

Memang … segala sesuatu ada efek buruknya.

Kita tidak bisa lagi menikmati pornografi dengan bebas, kita tidak bisa lagi menonton kdrama atau AKB48. Kita tidak bisa lagi twitteran, fb-an, ym-an dan lain-lain. Bisnis berbasis internet kita akan mati suri.

Dan lain-lain …

Jika IP Indonesia di blok, memangnya kenapa?
Bukankah kita bisa membuat intranet sendiri berskala nasional?
Bukan kita yang akan kehilangan, tapi mereka.

Ingat, kita ini salah satu negara dengan tingkat konsumen terbesar. Kita adalah pasar produk dunia. Jika kita tidak bisa mengakses internet negara lain, maka bersyukurlah, kita ada kesempatan untuk berdikari.

Kita bisa membangun baidu kita sendiri. Kita bisa membuat facebook kita sendiri. Kita bisa membesarkan twitter kita sendiri.

Kita punya modalnya, kita punya teknologinya, kita punya konsumennya. Kita bisa swasembada!

Ingat juga, Indonesia ini terlalu seksi untuk diabaikan, walau di mulut mereka bilang benci, hati mereka sebenarnya sakit, mereka tak tega berpisah dengan kita.
Mereka tak sampai hati meninggalkan tambang newmont, mereka tak akan mau melepaskan pelukan jayawijaya, mereka tak ingin beranjak dari cepu, dari arun, dari dumai.
Mereka tak punya nyali untuk hengkang dari hutan-hutan kita, dari lepas-lepas pantai kita, dari tanah, laut dan udara kita.

Maka mereka akan mulai curi-curi pandang, lalu tersenyum, lalu mendekat, seperti pelacur yang mencari mangsa dan akhirnya akan tersungkur di selangkangan kita 😛

Tapi … seperti hari ini, 5 tahun, 10 tahun dan berikutnya, akankah kita tetap seperti ini. Kabur menyelamatkan diri sendiri ketika suasana mulai memanas meskipun yang kita perjuangkan adalah harga diri sendiri?

Kamus Sasak
[1] Mana bisa, mimpi kamu ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s