Arsip Blog
Katanya Agama itu Damai, Pancasila itu Sakti?
Ini postingan gak populer, gak cocok dengan waktunya, cuma terlintas setelah membaca berita-berita lama seputar kekerasan, bentrok, kristenisasi dengan pemerkosaan dan penerbitan buku-buku menghujat (terakhir yang lagi hangat “Sang Putra dan Sang Bulan”, karya penulis gak jelas yang diedarkan Toko Buku yang katanya bergengsi, Gramedia)
Jika kita yakin bahwa agama, ideologi dan pandangan hidup itu mengajarkan kebaikan saja, mengapa kita harus menggunakan kekerasan, pemaksaan, dan sejumlah kilah agar orang lain menerima agama, ideologi dan pandangan hidup kita yang jelas tidak semua orang sama dan bisa menerimanya?
Membumikan Pancasila dengan Kekerasan?
Men-syariahkan Indonesia dengan Bom?
Membakar Alquran, melecehkan nabi, melarang jilbab, menerbitkan buku menghujat, apa itu yang diajarkan Yesus?
Di Bali (denger kabar) azan dilarang menggunakan speaker, padahal di Kr. Taruna (domisili kedua saya) pembacaan weda setiap sore pake speaker.
Tidakkah ini menyedihkan? Bahwa kebencian dan permusuhan sudah mengglobal?
Tidak cuma di Indonesia. Di negara-negara yang mentahbiskan diri sebagai negara yang menghargai HAM seperti Prancis, AS, Inggris, Denmark, Belanda sampai di negara-negara dunia ketiga dan lokasi konflik seperti Afghanistan, Irak, Iran, China, Palestina, dan sederet negara lain yang dituliskan niscaya semua negera termasuk didalamnya.
Sepertinya dunia harus kiamat hari ini, agar kita bisa melihat siapa yang paling benar?
Berani meminta kiamat?
Menghadapi Masalah SARA
Di forum-forum, dalam percakapan sehari-hari, di media, isu-isu SARA amat sangat tabu untuk dibicarakan, takut disentuh, dihindari untuk dibahas panjang lebar.
Masalah kesukuan, golongan, agama, etnis, gender, dan isu-isu sensitif lainnya cenderung berubah menjadi pemicu kekerasan di masyarakat dan biasanya, menjadi dendam yang berkepanjangan.
Sebenarnya masalah-masalah SARA ini tidak tabu untuk dibicarakan dan didiskusikan, dengan syarat kematangan berpikir dan kemampuan mengontrol emosi yang baik. Jika tidak, masalah SARA cenderung memicu kekerasan.
Tidaklah tabu mendiskusikan perkawinan beda agama, tidak masalah membicarakan karakter sebuah suku, adalah wajar membicarakan aturan-aturan agama.
Mungkin pembicaraan itu diawali dengan gosip miring, dengan idiom yang menghujat atau kesalahpahaman, tidak masalah. Selama diskusi berlangsung dengan pemikiran yang jernih dan emosi yang terkontrol dan tentu saja kehadiran ahli dalam perkara yang dibicarakan, saya yakin diskusi apapun akan membuahkan hasil yang positif.
Unsur kehadiran ahli disini sangat penting, bahkan mustahil diskusi mencapai konklusi jika semua peserta diskusi tidak mampu/tidak menguasai topik diskusi. Jika diskusi dilakukan tanpa kehadiran ahli, yang terjadi adalah debat kusir yang mungkin berakhir dengan kebencian, karena tidak adanya ide baru yang masuk, setiap peserta bertahan dengan ide-ide mereka dan akan tetap dengan persepsi lama, bahwa dirinya yang benar dan pihak lawan salah. Siapa yang tahu, bahwa semua peserta, bisa saja memiliki pandangan yang salah sama sekali.
Jadi saudaraku, tuntulah ilmu setinggi-tingginya, jadilah ahli dalam satu hal, meskipun itu hanya ahli dalam membaca misalnya, siapa yang tahu kelak anda bisa menjadi proof reader yang hebat? Wallahu alam.
Jadi saudaraku, janganlah marah ketika pernikahan beda agama saya katakan sebagai zina yang berkepanjangan, bahwa homo, lesbian, banci itu adalah penyakit yang harus disembuhkan, bukan sesuatu yang harus dimaklumi, dibiarkan apalagi dianjurkan.
Janganlah marah ketika saya katakan perokok itu adalah penjahat.
Ayo kita diskusi
