Ini adalah pertanyaanku yang akan aku jawab sendiri dengan “analisa” di bawah ini.
Sejak manusia berusia 0 (nol), manusia berusaha memahami tempat hidupnya. Bersinggungan dengan kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Takjub dengan kemampuan “miliknya”.
Dia yang takjub dengan kekuatan di luar dirinya, menjadi penyembah. Dia yang terpesona dengan “miliknya” menjadi seorang egomaniak.
Beberapa dari manusia mendapatkan keberuntungan, menjadi manusia istimewa yang tercerahkan, membawa makna baru untuk nama yang telah lama dikenal. Nama yang pernah disebutkan secara rahasia. Allah!
Muhammad, shallu alaih, seorang dari manusia beruntung yang istimewa itu. Di jazirah yang gelap, muncul terang. Dan tak mengingkari kenabiannya, sang terpercaya (Al Amin) menyampaikan (Al Amanah) semua yang dibawanya dari Allah. Perhatikan kata-kata dalam kurung!
Ada tiga sifat yang mesti dimilik seorang nabi, hanya satu yang kita perlukan dalam masalah sufisme ini, yaitu sifat amanah.
Jika sufisme dikatakan bagian dari Islam, maka Alquran, Hadits, dan sahabat-sahabat akan menyuruh kita mengerjakannya.
Jika sufisme dikatakan sebagai pengetahuan rahasia, maka sifat amanah seorang nabi telah dicemari. Padahal kita yakin, nabi adalah manusia yang paling terpercaya dan paling memegang amanah (jika bukan nabi, siapa lagi?)
Sufisme sendiri baru “muncul” jauh setelah kematian nabi, dicatat, ketika seorang bernama Hasan al Bashri mengajarkan tentang ini dan Ali bin Abi Thalib menyetujui pengajarannya.
Tetapi salah besar ketika kita mengatakan bahwa ajaran itu adalah sufisme seperti yang kita kenal sekarang. Pengajaran itu bukanlah tentang bilangan-bilangan yang ajaib, bukan tentang nama-nama rahasia, bukan tentang makna gerak-gerak shalat, bukan tentang satu orang yang menjadi sebab terciptanya semesta, bukan tentang ibadah-ibadah rahasia.
Jika kau ingin tahu apa yang diajarkan beliau, tengoklah ke Alquran, lihatlah ke Al hadits, perhatikanlah para sahabat.
Islam adalah ketika kau mengerjakan lima pilar agama. Iman adalah ketika kau mengimani kemestian yang enam. Ihsan adalah ketika tindak lakumu karena Allah.
Lalu, dimanakah kita sekarang?
Saya mengatakan, cintailah Allah, cintailah Rasul, cintailah Alquran, tetapi yang paling penting dari cinta itu adalah membuktikan cinta.
Kita hanyalah seorang pengecut jika hanya mampu mencintai tanpa mampu membuktikan cinta kita.
Filed under: The Thougts , islam, renungan, sufisme







Komentar Terakhir