Arsip Blog

Cerita Tentang Aku, Kau dan KPLI

Masalah lain yang juga membuat saya agak susah tidur adalah untuk apakah saya aktif di KPLI?

Agar jelas, saya mengulang kembali sejarah mengapa saya menerima ajakan kawan-kawan lainnya untuk membentuk KPLI. Alasan saya sederhana sekali, sekedar untuk berbagi.
Maka saya membuat posting di linux.or.id, dan postingan ini agak lama baru mendapat respon yang saya harapkan, sementara itu, saya membeli domain linuxindo.web.id (tanpa tahu bahwa linuxindo.com ada dan merupakan perusahaan), saya benar-benar newbie dan ceroboh waktu itu.

Sekarang, sejak 2008, saya menjabat sebagai ketua KPLI NTB, yang semula niatnya adalah membentuk KPLI di Kota Mataram saja. Sekarang, bisa dikatakan saya agak “mapan” di KPLI. Saya mendapatkan dukungan dari anggota lain, yang juga sahabat-sahabat saya. Saya juga merasakan manisnya jalan-jalan ketika ada pelatihan, dan yah, bisa membeli hardisk 500Gb sepulangnya – Alhamdulillah!

Saya tidak bermasalah dengan hal-hal seperti ini, ini merupakan konsekuensi yang wajar.

Sekarang, ketika saya larut dalam KPLI, sibuk memikirkan kegiatan-kegiatan, rekrutment anggota, melayani tanya jawab, dan membolos kerja ketika dibutuhkan, main PW, nonton film, dua hal yang saya dapatkan karena pertemanan, saya menelantarkan blog tutorial saya, saya lupa dengan core business saya.

Dan baru-baru ini saya menyadari adanya perbedaan pandangan dalam tubuh KPLI. Misalnya pandangan yang menyatakan bahwa “setiap komunitas linux di NTB wajib tunduk dibawah kepemimpinan KPLI NTB” atau “Kita harus menunjukkan keberadaan kita dan mendekati pemerintah”. Ini dua contoh pandangan yang membuat saya risau.

Untuk pandangan pertama, KPLI NTB tidak ada hak sama sekali untuk menempatkan komunitas lain di NTB dibawahnya, tidak peduli apakah komunitas itu berdiri dengan tenaga sendiri atau dibentuk dengan bantuan KPLI, kecuali komunitas itu sendiri menginginkannya.

Kita menghargai nilai dasar pergerakan kita, free as freedom!

Untuk pandangan kedua, saya menilai KPLI tidak perlu pusing memikirkan penolakan dari pemerintah, karena KPLI, khusunya KPLI NTB dalam pandangan saya, sasaran utamanya adalah masyarakat luas. Saya memberi nama MANUX bukanlah nama kosong, tetapi menyiratkan tujuan KPLI. MANUX adalah MASYARAKAT pengguna Linux.
Karena sungguh, masyarakatlah penggerak utama negara ini.

Bukan tanpa alasan, mengapa pedagang-pedagang PC/Laptop memilih menyertakan Windows dalam penjualannya, bukan OS lain – meskipun hal ini ilegal. Karena adanya permintaan dari masyarakat.
Inilah yang harus dirubah.

Masyarakat itu bukan sekedar 25 SKPD provinsi, bukan juga kementerian kominfo, atau ristek atau diknas, bukan.

Lagipula, sudah saatnya kita merubah fokus, karena sekarang ini pemerintah sudah bergerak sendiri melakukan migrasi. Mereka sudah siuman. Tidak perlu lagi dikeloni terlalu ketat, mari kita perhatikan masyarakat yang selama ini kita anak tiri-kan.

Dan linux bukan sekedar seminar, workshop, sosialisasi dan sebangsanya. Linux bisa juga menjadi jalan sehat, lomba mewarnai, lomba makan, dan lainnya. Seperti kata teman saya. Go get real life dude!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 803 pengikut lainnya.