Akhir-akhir ini sekeliling kita (media massa, buku-buku best seller, motivator, dan lainnya) marak mendengungkan pentingnya hubungan sosial dengan orang lain.
Menghargai pandangan hidup orang lain yang memilih menjadi penyimpang seksual, penganut anal seks, homo seks, lesbian, perkawinan sesama jenis, dan kekerasan dalam seksualitas.
Hal-hal ini makin banyak diperbincangkan, difilmkan, dibukukan, dipaksakan untuk dianggap kewajaran, diharapkan diterima masyarakat.
Dan ada ancaman, siapapun yang tidak terbuka terhadap hal-hal seperti ini, tentu saja termasuk saya, dikatakan manusia tak bertenggang rasa, anti sosial. Pendeknya, memiliki perasaan anti terhadap hal-hal diatas, jelas suatu kesalahan.
Ini gejala yang nyata.
Ada film coklat strawberry dan film holywood yang saya lupa judulnya, ada lagu “Beautiful” Christina Aquilera, ada organisasi Gaya Nusantara dengan majalahnya, ada majalah cosmopolitan dengan artikel-artikel gaya hidup kosmopolitannya, ada banci-banci di televisi.
Termasuk dalam hal ini perzinaan terselubung berkedok perkawinan beda agama.
Perkawinan beda agama, dicontohkan oleh selebriti-selebriti kita. Diliput besar-besaran, dirayakan.
Tapi tahukah anda, wahai pelaku pernikahan beda agama. Selain menyakiti keluarga dan orang-orang sekitar anda, anda juga sedang melakukan perjanjian berzina seumur pernikahan anda. Anak-anak yang lahir adalah anak-anak hasil perzinahan.
Ya, anda berzina!
Seumur pernikahan anda.
Ini kebenaran yang tidak mau anda dengarkan!
Terkutuklah anda yang melakukannya, terkutuklah anda yang menyetujui ini, terlaknatlah anda yang melogikan hal ini (kawanan JIL, bertobatlah!).
Meskipun cinta itu berat, sanggupkah anda mengangkat wajah anda dihadapan Allah?
Sebaliknya, pandangan hidup seperti poligami, menikah usia dini, menikah dengan wanita yang lebih tua atau menikah di usia tua, dilecehkan.
Poligami contohnya, mendapatkan reaksi paling keras, justru dari muslimah yang agamanya meng-halal-kan hal ini. Sepintas, sepertinya merugikan kaum wanita. Meskipun kecendrungan hati itu tidak dapat dipaksakan, ada banyak alasan mulia mengapa poligami itu “wajib” bagi yang mampu.
Lihatlah contoh suami-suami yang bijaksana seperti nabi-nabi kita, lihat Muhammad SAW, Ibrahim AS, Musa AS atau Yakub AS.
Dalam era modern ini, kita bisa belajar dari AA Gym, Puspo Wardoyo, dan siapa lagi ya?
Hal lain yang juga mendapat sorotan adalah menikah di usia dini. Saya sendiri sangat mendukung hal ini. Ini adalah solusi ampuh untuk mencegah penyimpangan seksual di kalangan generasi muda kita.
Bahkan, menikah itu harus dipermudah dan diberikan bonus. Pemerintah harus memberikan kado berupa uang untuk pasangan yang baru menikah.
Jangan khawatir soal rejeki. Rejeki itu sudah ada jatahnya masing-masing, pasti diberikan, anda berusaha (bekerja) maupun tidak, anda suka maupun tidak, anda siap maupun tidak.
Ada banyak hal yang membingungkan di masyarakat modern kala ini. Tameng ter-ampuh untuk membentengi diri dan keluarga adalah dengan kembali kepada nilai-nilai agama. Saya amat yakin, dalam agama ada solusi untuk semua permasalahan hidup manusia. Apakah politik, ekonomi, hidup berbangsa, bermasyarakat dan berkeluarga. Bahkan, bagaimana membersihkan diri dari najis, ada aturannya dalam agama.
Tunggu apa lagi?
Wahai diri
Kapan kau kembali?
Akhir kata, maafkan kemunafikan diriku.
Filed under: The Thougts , islam, lifestyle, opinions







Komentar Terakhir