Arsip Blog
Mengapa Memilih Pancasila (Lagi)
Pagi ini, jam 3.42 saya terbangun dengan hidung yang masih tersumbat, meler dan gatal. Sementara hidung saya penuh dengan lendir dan mulut menganga bernafas, kepala saya penuh dengan lintasan-lintasan mengenai pancasila.
Entah karena sebelum tidur saya melihat iklan pancasila di IDWS ataukah melihatnya sekilas di televisi. Yang jelas … saya menarik kesimpulan bahwa pancasila tidak layak dijadikan panduan hidup.
Jika dijadikan pelekat politis bagi bangsa-bangsa yang hidup di kepulauan Indonesia ini masih bolehlah. Posisinya mungkin sama seperti lingua franca kita, Bahasa Indonesia yang asalnya dari bahasa Melayu.
Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa nasional karena persebarannya yang meliputi nusantara. Demikian juga pancasila, nilai-nilai yang tercantum dalam 5 pernyataannya adalah prinsip yang sudah ada di tiap-tiap bangsa kepulauan ini.
Lihat saja sekeliling kita. Kita pasti akan menemukan, dalam sejarah bangsa-bangsa kita, misalnya bangsa Sasak adalah bangsa yang hidup menurut aturan Tuhan Yang Maha Esa, berperi-kemanusiaan, bersatu dengan sesama orang Sasak, bermusyawarah dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat, memiliki keadilan sosial yang tinggi dan berkeinginan untuk makmur dan sejahtera.
Prinsip-prinsip di atas, saya yakin sudah ada di tiap-tiap bangsa yang menghuni kepulauan yang disatukan dalam nama Indonesia ini.
Jadi … secara politis, Bahasa Indonesia, Pancasila, Identitas Indonesia memenuhi syarat untuk digunakan sebagai perekat antara bangsa-bangsa yang berbeda di kepulauan yang luas ini. Tetapi kalau digunakan secara berlebihan, malah bisa merusak keberagaman kita.
Lihat saja nasib bahasa daerah, berapa banyak anak bangsa yang memahami bahasa ibuya sendiri? saya sendiri termasuk “korban”. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang saya kuasai dengan baik, jauh lebih baik daripada bahasa ibu saya. Ini menyedihkan, karena bagaimana saya hidup diantara bangsa saya jika saya
tidak (banyak) mengerti bahasanya.
Bagaimana saya akan bangga bercerita kepada anak cucu saya bahwa buyutnya dari kakek berasal dari Sakra, dan buyutnya dari nenek berasal dari Praya. nasib yang sama juga dialami isteri saya, lahir bapak berbahasa Minang tapi tidak mengerti bahasanya, bahkan tidak pernah melihat tanah kelahiran ayahnya.
Bahasa yang paling ia kuasai adalah Bahasa Indonesia, kemudian Bahasa Inggris (dia guru bahasa), Jawa (karena kuliah di jawa), lalu sasak, karena ibunya separuh jawa, separuh sasak Narmada.
Saya pribadi, lebih memilih kitab suci sebagai pegangan hidup, menerima Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan menerima sebutan orang Indonesia untuk mewakili saudaraku di bagian timur, tengah dan barat kepulauan ini. Bisa juga menerima pancasila sebagai asas negara.
Kesimpulannya, Pancasila baik, Bahasa Indonesia baik, identitas Indonesia baik, tapi kita juga harus melindungi keberagaman kita masing-masing. Jangan mengharapkan pemerintah, karena pemerintah sudah “terlalu sibuk” dengan urusan lain. Sibuk menjual bangsa-bangsa kepulauan ini kepada asing. Sibuk memperebutkan “upeti” yang diambil dari daerah-daerah.
Cuma di Indonesia ada pulau penghasil minyak yang bangsanya mengantri di SPBU. Cuma di Indonesia yang bahkan, jika batu dan kayu dilempar akan tumbuh jua, yang bangsanya mengimpor beras. Cuma di Indonesia ada pulau bergunung emas yang rakyatnya masih terjerat kemiskinan, cuma bisa menjadi penonton keserakahan bangsa asing.
Semoga … tidak sia-sia kesabaran bangsa-bangsa yang bertebaran di penjuru kepulauan ini.
Linux Masa Depan Indonesia
Tak satu orang pun yang akan bisa membuktikan cintaku pada bangsa ini. Tak juga kata-kata yang kutulis sejak bertahun-tahun lampau.
Inspirasi untuk berbagi dengan orang lain datang dari semangat Om Richard Stallman. Dari Om Stallman, jutaan manusia terinspirasi, termasuk anda!
Free software adalah intinya, semangat dan gaya hidup.
Jika kita mau berbagi dengan orang lain, berikanlah sesuatu secara tulus ikhlas, tanpa pamrih.
Artinya, buatlah produk yang mengijinkan orang lain untuk melihat resepnya, merubah resepnya sehingga produk itu menjadi lebih baik (atau lebih buruk!). Jangan terselip kata-kata tetapi, ketentuan berlaku, dan sejenisnya.
Berikanlah kebebasan sebebas-bebasnya.
Saya yakin, manusia pada dasarnya makhluk yang baik dan (bisa) sadar.
Bangsa inipun perlu diberi waktu untuk menyadari kekeliruannya.
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Pencurian, Penipuan, Penjarahan yang kita lakukan pada akhirnya harus dihentikan.
Jika kita sudah menyadarinya, barulah kita melihat solusi.
Linux, tanpa menafikan Free OS lainnya, adalah solusi yang ideal bagi bangsa ini.
Kepesatan pengembangan dan populritasnya menjadi nilai lebih disamping desktop yang indah, aplikasi yang lengkap dan kemudahan pengoperasiannya.
Dengan Free OS dan Free Software, kita mengharapkan, alokasi dana untuk kebutuhan TI bisa dipotong dan dialihkan ke sektor lainnya, misalnya kesehatan masyarakat.
Jangan sampai, seorang miskin meninggal ditengah obat-obatan dan disamping dokter yang seharusnya bisa membantunya. Tetapi karena harganya yang selangit, terpaksa meninggal dengan gigit jari dan penasaran.
Wahai insan, dimanakah hatimu?