Arsip Blog
Bali, Tantangan masyarakat Lombok
Bali disini yang saya maksudkan adalah dunia pariwisata Bali. Sedangkan masyarakat Lombok yang saya maksudkan disini adalah anda yang memiliki kecintaan dengan gugusan pulau yang menyusun propinsi ini.
Dunia tahu, Senggigi masih lebih bagus ketimbang Kuta, dan Kuta Lombok menyimpan potensi yang luar biasa.
Tapi, sudahkah kita melihat kenyataan?
Siapakah yang saat ini giat melakukan pembelian tanah-tanah milik masyarakat yang letaknya berdekatan dengan daerah-daerah tujuan wisata.
Sudahkah kita melihat kenyataan di tiga gili, air, meno dan trawangan. Siapakah yang memiliki tanah di Senggigi, Kuta Lombok, dan daerah lain di pulau Sumbawa? (Maaf, saya kurang jelas dengan pulau Sumbawa, sehingga saya tidak bisa menyebutkan apa-apa).
Tulisan saya ini sendiri dipicu oleh satu rak kartu pos di Mall Discovery, Kuta Bali, saat saya jalan-jalan setelah acara ILC 2008 usai.
Dalam satu rak itu, terdapat dua lajur. Satu lajur penuh dengan kartu pos bertuliskan Bali, dengan foto-foto daerah wisata populer di Bali.
Sedangkan di lajur sebelah, saya melihat Gili Meno, pantai Senggigi dan daerah wisata lain di Lombok. Tetapi tahukah anda apa tulisannya?
Indonesia!
Ya, Indonesia, bukan Lombok!
Mengapa hal seperti ini, hal yang jelas-jelas ingin menyembunyikan dan mengaburkan identitas Lombok di mata dunia (mata dunia – Bali adalah desa internasional?), bisa terjadi.
Saya bisa menganalisa beberapa hal:
- Mereka (pelaku wisata di Bali), takut kehilangan mata pencaharian
- Mereka ingin tetap mempertahankan superioritas mereka dalam turisme
- Dan lain-lain alasan yang terus terang, tak bisa saya pikirkan
Sebagai manusia (bukan warga Lombok!), saya merasakan ketololan seperti ini akibat tidak mengerti dengan cara kerja Allah dalam mengatur rejeki hamba-hambanya.
Tak satu manusiapun mampu menghalangi bencana untuk dirinya sendiri. Dan tak satu manusiapun mampu, menarik rejeki yang bukan untuknya.
Orang Betawi bilang, “kagak bakal kemane!“
Nah, sebagai masyarakat Lombok, setelah mengetahui hal-hal seperti ini, apakah tindakan kita?
- Promosi?
- Diam dan geleng-geleng kepala?
- Atau membuat website seperti website Lombok Travel Guide saya ini?
Jangan mengharapkan orang-orang seperti gubernur, bupati atau tokoh-tokoh masyarakat. Mereka punya urusan sendiri-sendiri (dan kebanyakan, tidak bisa diharapkan! hiks-hiks-hiks!).
Kita, masyakatlah yang harus berbuat dan memberi contoh. Karena, lagi-lagi, mereka tidak bisa digugu. Kalaupun ada, mereka hanya bisa latah membuat poster gede-gede sepanjang Lembar sampai Ampenan, dari Bayan sampai Sape.
Wah!
Kuta, Desa Dunia Yang Konsumtif
Disini, saya berbicara sebagai pengamat. Terus terang, saya tidak berhak melakukan penilaian. karena itu saya kembalikan kepada anda sebagai pembaca.
Selama berjalan-jalan di Kuta. Ke-gembelan saya sama sekali tidak mengundang sapaan atau keramahan yang bisa didapatkan oleh turis dengan penampilan yang lebih baik.
Memang, orang Bali pun sama seperti manusia lain, kesan itu datang dari pandangan.
Saya memperhatikan, dari ratusan (mungkin ribuan) orang yang membanjiri daerah Kuta, dari penduduk lokal, pendatang dan turis, semuanya memiliki kemiripan.
Kemiripannya adalah, tingkat konsumtif yang luar biasa.
Di Kuta (dan Bali, tentunya), anda bisa menemukan apapun yang anda inginkan dan harapkan, dengan harga yang mungkin lebih dari biasannya.
Harga satu DVD film bajakan di Toko Dua Bintang, Mall Discovery adalah 10.000,- sedang di Ruby, Mataram, harganya adalah 6000-7000 per-kepingnya.
Nasi bungkus, dengan harga 8.000,- masih kalah dengan Asano (warung masakan Padang pak Haji di Airlangga – Gomong) yang juga harganya 8.000,- tapi anda lebih puas makannya.
Dan tentang konsumerisme tadi, gejalanya bisa dilihat dengan banyaknya gerai-gerai toko, pusat-pusat belanja yang anehnya, selalu dipadati pengunjung, meskipun bagi orang kebanyakan seperti saya, diluar jangkauan saya.
Apalagi, melihat pandangan sinis shopkeeper-nya, mmmmm, menurunkan nafsu belanja!
Yang memuaskan di Kuta adalah, nafsu mata keranjang saya terpuaskan.
Kemanapun saya memandang, saya melihat hal-hal yang meruntuhkan iman. Apa itu?
Tebak sendiri lah!
Yang membuat saya geleng-geleng adalah, penduduk lokal pun tidak luput dari pengaruh ini.
Saya rasa, pola seperti akan berulang ditempat-tempat lain, termasuk tanah kelahiran saya, Lombok.
Mudah-mudahan saja, anak cucu saya terhindarkan, atau diwafatkan daripada mengalami hal-hal menakutkan seperti ini.
Saya sangat prihatin! Bagaimana dengan anda?