Arsip Kategori: The Thougts
Katanya Agama itu Damai, Pancasila itu Sakti?
Ini postingan gak populer, gak cocok dengan waktunya, cuma terlintas setelah membaca berita-berita lama seputar kekerasan, bentrok, kristenisasi dengan pemerkosaan dan penerbitan buku-buku menghujat (terakhir yang lagi hangat “Sang Putra dan Sang Bulan”, karya penulis gak jelas yang diedarkan Toko Buku yang katanya bergengsi, Gramedia)
Jika kita yakin bahwa agama, ideologi dan pandangan hidup itu mengajarkan kebaikan saja, mengapa kita harus menggunakan kekerasan, pemaksaan, dan sejumlah kilah agar orang lain menerima agama, ideologi dan pandangan hidup kita yang jelas tidak semua orang sama dan bisa menerimanya?
Membumikan Pancasila dengan Kekerasan?
Men-syariahkan Indonesia dengan Bom?
Membakar Alquran, melecehkan nabi, melarang jilbab, menerbitkan buku menghujat, apa itu yang diajarkan Yesus?
Di Bali (denger kabar) azan dilarang menggunakan speaker, padahal di Kr. Taruna (domisili kedua saya) pembacaan weda setiap sore pake speaker.
Tidakkah ini menyedihkan? Bahwa kebencian dan permusuhan sudah mengglobal?
Tidak cuma di Indonesia. Di negara-negara yang mentahbiskan diri sebagai negara yang menghargai HAM seperti Prancis, AS, Inggris, Denmark, Belanda sampai di negara-negara dunia ketiga dan lokasi konflik seperti Afghanistan, Irak, Iran, China, Palestina, dan sederet negara lain yang dituliskan niscaya semua negera termasuk didalamnya.
Sepertinya dunia harus kiamat hari ini, agar kita bisa melihat siapa yang paling benar?
Berani meminta kiamat?
9/11 is A BIG HOAX yang Bikin HOEX ….
Yak … seperti judulnya ….
9/11 adalah HOAX, sama palsunya seperti Holocaust yang membantai orang Yahudi melebihi populasinya saat itu ….. punya otak gak dipake … ya sudahlah …
Lanjut aja paman Sam! sampai jumpa di neraka
XL Merampok Pulsa via RBT
Itulah judul besar di sebuah forum ponsel yang menarik untuk saya kunjungi. Kok tiba-tiba googling soal RBT? XL lagi … padahal aku kan pengguna Simpati (2 SMS Iklan/hari, aku gak pernah bayar buat ini
)
Hari ini istri saya kesal sekali, entah sejak kapan dia berlangganan RBT dan baru saja kena potong setelah mengisi pulsa. Mungkin istri saya tidak sadar dan entah bagaimana tiba-tiba saja dia sudah ….. *(&&**&^%$#@!$#%$&(*& XL F**k
Dia bertanya pada saya, bagaimana caranya berhenti berlangganan RBT, bagaimana caranya operator 1818 bisa main potong pulsa.
Akhirnya saya googling, menemukan situs XL rb.xl.co.id dan mencari-cari link yang menunjukkan bagaimana melakukan UNSUB ke 1818. Tapi saya tidak menemukannya. Bahkan yang lebih mencengangkan saya, link Disclaimernya tidak bisa diklik, alias halaman ini tidak bisa diakses, alias pelanggan ditinggalkan begitu saja dalam ketidaktahuan dan kelemahannya.
Kembali ke forum diatas, kalau menurut TS tersebut, kronologinya seperti ini:
===
Hallo,
Pada tanggal 08/03/2009 saya mendapatkan SMS demikian:
Selamat menikmati XL RBT!Anda mendapat gratis biaya bulanan utk bln pertama!Biaya Rp5.500/30hr(blm PPN) dikenakan otomatis bln ke2, RBT akan aktif dlm 1x24jam.
dan juga demikian:
Trm kasih sdh menggunakan XL RBT 1818. Utk tahu lagu yg lg populer kirim TOP ke1818. Utk tahu lagu lain ketik: CARI, kirim ke1818.
Pada saat itu juga, RBT langsung saya nonaktifkan dengan mengetikkan UNSUB ke 1818. Baru saja, tiba2 saya mendaptkan SMS lagi demikian :
Terima kasih, masa berlangganan XL RBT 1818 Anda telah diperpanjang. Utk pilihan lagu lain kirim RP ke 1818 (Terlanjur Cinta – Rossa & Pasha) Rp7rb/lg
Bagaimana bisa tiba2 RBT yang tidak pernah saya gunakan diperpanjang secar otomatis…. Saya coba call ke 817, dibilang saya pernah mengaktifkan RBT dan pihak XL TIDAK PERNAH / TIDAK BISA aktifkan RBT, harus dari pihak pelanggan. Lalu SMS saya yang pertama kali itu apa dong??? Hilang dah pulsa 7.000 dengan sia2….
Saat ini RBT juga telah saya nonaktifkan kembali.. Sudah coba saya call, dan tidak ada RBT’nya.. Ada rekan FP mengalami hal sama?
Thanks..
===
Akhirnya dengan sedikit magic dari om Blek yang ditiupkan melalui angin dari lereng tambora, saya mengetik SMS dengan isi UNSUB dan mengirimkannya ke 1818 …….
Berhasil … saya menerima sms konfirmasi bahwa saya sudah berhenti berlangganan. Tapi … yang membuat kesal, dibawahnya ada tawaran lagi untuk berlangganan RBT dengan lagu jelek bla-bla-bla …. wah XL memang ^&^^%$!#%&*)(* F**k
Setelah googling, aku menemukan banyak sekali keluhan bernada sama seperti diatas. bukan hanya dilakukan oleh XL, operator lainpun sama saja, setali tiga uang.
Sudah separah inikah wajah dunia usaha di Indonesia? Penuh cara-cara licik, memanfaatkan ketidaktahuan pelanggan dan lemahnya perlindungan dari pemerintah?
Pemerintah sudah waktunya menertibkan praktik-praktik liar seperti ini, misalnya Simpati berhenti mengirimkan SMS iklan 2 SMS/hari karena pulsanya sudah saya bayar dan saya membayar untuk pulsa bukan untuk dikirimkan iklan.
Mumpung ramadhan belum jauh, saya mengajak segenap insan bisnis Indonesia, para operator GSM/CDMA, XL, Telkomsel, Smartfren, Esia, Axis, Indosat, Ceria dan lainnya untuk meninggalkan cara-cara licik, memanfaatkan ketidaktahuan pelanggan dan lemahnya perlindungan pemerintah karena belum adanya regulasi yang mengatur untuk berbisnis dengan cara-cara yang santun, jujur, tidak usah sesumbar sebagai yang termurah, terbagus, ter-blak-blakan dan ….. !@@@$%#%$*&^(*)(($#@!!@$%*() dan pada akhirnya cuma isapan jempol saja.
Berani gak lu!
Bukan Medianya Tapi Isinya
Secara aneh, saat masih berbaring, setelah tersadar dari sebuah mimpi, benak saya dienuhi beberapa pemikiran antara lain, tentang Google Plus.
Munculnya Google Plus menyulut antusiasme yang aneh pada sebagian orang. Ada yang menganggapnya lebih baik, super dan hebat daripada media-media sebelumnya seperti facebook. Sebaliknya, ada juga yang menganggapnya ketinggalan kereta, karena pangsa pasar media sosialisasi seperti facebook sudah merebut pengguna yang luar biasa. Juga karena banyaknya media sejenis yang saling bersaing.
Tapi maaf saja, buat saya, kesemuanya itu gak penting!
Mengapa? Karena ….
Media seperti facebook, twitter, Google+, plurk, blog, web, email, buku, diary, sms dan mulut (dan sebut saja yang lainnya) itu dalam bentuknya saja berbeda, tetapi dalam esensi-nya sama, sebagai media berekspresi.
Kenyataannya, kita hanya punya satu otak, satu pribadi dan katakanlah, satu pendapat (though) atau sebut saja, ekspresi – yang ingin diungkapkan, dibagi dengan orang lain.
Dengan mulut, kita perlu orang lain secara berhadapan, apakah tatap muka atau melalui media frekuensi elektromagnetik. Dengan twitter, kita diharuskan mengekspresikan diri dalam jumlah karakter terbatas. Di facebook, kita bisa menambahkan foto, bahkan video untuk audiens tertentu yang lebih luas lagi.
Kenyataannya, ekspresi itu, meskipun subyektif, bisa dibedakan, antara yang bagus dengan yang jelek, antara yang menyulut antusiasme dengan yang mengundang cemooh. Kasarnya, emas dan (maaf) kotoran itu tidak sama.
Yang menjadikan Udin selebriti dan yang menjadikan sekelompok anggota komisi dicaci-maki juga sama, ekspresi. Tetapi tetap bisa dibedakan!
Pendek kata, seperti ilmu silat, bentuk (gerakan/teknik) itu tergantung esensi-nya (ku koat / boh). Bentuk saja, tanpa esensi adalah mati, tak berarti.
Twitter, facebook, Google+, mulut, sms, blog, tv, koran, pakaian, jabatan, buku, kulit, hiasan, aksesori itu tidak penting. yang penting adalah isi, konten, ide, pribadi. Tapi isi, konten, ide atau pribadi saja tidak cukup, karena ada ide sampah adapula ide yang berbobot.
Polisi, hakim, pns, karyawan, suami, istri, teman, musuh semuanya memiliki kesamaan, tetapi tetap saja bisa dibedakan antara yang baik dengan yang buruk, antara yang koruptor dengan yang bukan, antara pahlawan dengan penjahat.
Seperti iklan, “Garbage In Garbage Out apapun medianya”.
Sederhananya, media apapun yang anda gunakan untuk ber-ekspresi, yang paling penting adalah kualitas ekspresi anda.
Ketika Semua Merek Di Klaim Pemiliknya
Seperti biasa, setelah bangun tidur, terkadang muncul ide-ide yang aneh di kepala saya, inilah Ledakan Dini Hari™.
Pertanyaan di atas menggelitik saya, setelah mengunjungi halaman kemitraan blankon linux dan membaca proposal kemitraan ini.
Di halaman itu terdaftar beberapa mitra BlankOn yang untuk menjadi mitra telah membayar sejumlah uang kemitraan dan memenuhi syarat yang diminta oleh pemegang merek.
Yang menggelitik saya adalah, apakah yang akan tersisa bagi komunitas yang tidak mampu membayar uang kemitraan seperti contoh kasus di atas?
Bagaimana relevansi-nya dengan cita-cita utopis mas Richard Stallman untuk menciptakan masyarakat dengan kebebasan dan keterbukaan?
Mari, bantu saya mencerahkan diri. Bagi opini anda!
Catatan: BlankOn adalah merek terdaftar dari pemiliknya, WordPress adalah merek terdaftar dari pemiliknya (juga), Firefox adalah merek terdaftar, Ubuntu, Redhat, Slackware, Debian, Mandriva, OpenSUSE, Zimbra, Virtualbox, bahkan Linux-pun adalah merek terdaftar dari pemiliknya masing-msing. Yang tersisa mungkin kata-kata OSS / FOSS [sebelum didaftarkan seseorang
]