Arsip Kategori: Open source

Linuxmint 12 – Desktop Favorit Masa Depan

Dengan keputusan ubuntu melakukan operasi plastik pada desktopnya yang selama ini menggunakan GNOME 2 ke unity dan dengan discontinue-nya proyek GNOME 2, Linuxmint mendapatkan angin segar, peningkatan 40% pengguna beberapa bulan terakhir ini.

Tapi tetap saja, GNOME 2 bukanlah masa depan karena pengembangannya sudah terhenti.

Kabar baiknya adalah, menurut official preview Linuxmint 12 ini, pengguna desktop “classic” akan tetap bisa bekerja seperti biasa walaupun menggunakan GNOME 3. Teknologi yang memungkinkan ini adalah inovasi terbaru dari tim Linuxmint, MGSE.

MGSE (Mint GNOME Shell Extensions) adalah desktop layer yang berjalan di atas GNOME 3 yang memungkinkan kita bekerja layaknya GNOME 2 (GNOME Classic). Berikut Screenshotnya.


MGSE akan menyediakan:

  • Bar Panel
  • Menu Aplikasi (Launcher)
  • Daftar Jendela (Window List)
  • Task Centric Desktop (Switch antar window bukan aplikasi)
  • System Tray

Lima fitur diatas adalah fitur yang terdapat pada GNOME Classic tapi tidak akan kita temukan pada GNOME 3 ataupun Unity. Meskipun demikian, jika kita ingin, kita bisa menggunakan GNOME 3 dalam bentuk aslinya, karena desktop ini tidak dibuang sama sekali.

Jadi … mengapa tidak menunggu kedatangan Linuxmint 12?

Berita selengkapnya bisa anda baca di LinuxMint 12 Preview Blog.

Apa Kabar Distro Linux Pasca Ramadhan 1432 ini?

Berkunjung ke distrowatch.com saya mendapatkan summary sebagai berikut:

Distro alt Linux meluncurkan rilis terbaru versi 6.0.0, LFS meluncurkan development release, versi 7.0 RC 1 terbaru.

Posisi 100 besar masih diduduki oleh Ubuntu diikuti LinuxMint, Fedora, Debian, OpenSuse, Arch Linux, PCLinuxOS, CentOS, Puppy Linux dan Mandriva di posisi 10 besar secara berurutan.

Rank 	Distribution 	Hit Per-Day
1 	Ubuntu 	        2207>
2 	Mint 	        2185<
3 	Fedora 	        1626>
4 	Debian 	        1331=
5 	openSUSE 	1283<
6 	Arch 	        1150>
7 	PCLinuxOS 	1082<
8 	CentOS 	        886>
9 	Puppy 	        834>
10 	Mandriva 	741>

Sementara distro lelaki sejati andalan om Blek, persis menduduki posisi 11.

Sementara itu, majalah Linux gratis FullCircle Magazine meluncurkan edisi ke-52, kernel Linux telah mencapai rilis 3.0.4 stable.

Agama dan Distro Linux

Loh … apa hubungannya? Gak nyambung deh ….

Tunggu dulu, duduk dulu …. dengarkan saya bicara =))
Meskipun kedengarannya gila, mohon bersabar …..

=== +++ === +++ === +++ === +++ === +++ === +++ === +++ ===

Agama itu ibarat distro linux (meskipun gak 100% cocok diibaratkan), systemnya harus fresh, tidak boleh ada muatan asing didalamnya.

Agama, seperti halnya distro linux, harus diinstal ke dalam hidup kita. Kalau hanya dibicarakan saja, percuma saja.

Agama, seperti halnya distro linux, tidak baik jika dicampuraduk, arsitekturnya harus pas, system i386 tidak bisa diinstal paket amd64.

Agama juga tidak boleh dualboot. Harus satu.

Agama, seperti halnya distro linux, harus free (gratis), tidak diperjualbelikan.

Meskipun demikian …

Agama tidak seperti distro linux, bisa digonta-ganti sesuka hati.

Agama tidak seperti distro linux, bukanlah milik komunitas, bukan juga dibangun oleh komunitas, tidak bisa ditambah dan dikurangi sesuai selera komunitas.

Agama tidak seperti distro linux, yang diedarkan dalam CD/DVD dengan paket-paket terbatas sesuai selera pilihan pengembang. Agama harus diinstal seluruhnya, karena sungguh, hardware kita mampu menanggungnya.

Agama tidak seperti distro linux, yang awal mulanya dibagikan gratis, ujung-ujungnya mengeksploitasi ummat dengan menawarkan support komersial.

Agama tidak seperti distro linux yang paket-paketnya bisa outdate. Paket-paket agama selalu update. Zamanlah yang harus berubah, bukan gaya hidup yang menentukan distro.

NB:
Saat ini saya sedang berusaha menjalankan agama seperti yang saya tulis diatas. Jadi kalau anda melihat saya masih banyak kekurangan, mohon dimaafkan :-)

Share Pengalaman Menggunakan Linux

Saya ingin share sedikit pengalaman saya menggunakan Linux agar teman-teman yang masih baru menggunakan Linux bisa termotivasi,  yang belum menggunakan Linux bisa tertarik dan yang sudah mahir, mungkin bisa bernostalgia.

Saya menggunakan Linux, jauh sebelum saya memiliki PC sendiri. Saya secara takdir (bukan kebetulan) menemukan CD Debian Woody yang terselip di buku belajar Debian yang judul dan pengarangnya saya sudah lupa. CD ini rupanya lupa diambil dan diamankan oleh petugas perpustakaannya, rupanya, CD ini diperuntukkan untuk saya.

Sekarang, CD itu entah dimana saya tidak tahu. Mungkin lenyap saat pindahan rumah (saya pindah rumah sudah 4 kali, sejak menikah).

Jadi, dikarenakan sejak awal saya sudah mengenal Debian, sampai saat ini, distro yang paling cocok dengan saya adalah distro yang berbasis Debian, seperti LinuxMint yang saya pakai sekarang ini.

Bulan-bulan awal memiliki PC, saya bolak-balik mempartisi, menginstall, break, install ulang, karena terus terang, PC merupakan barang baru buat saya. Dan awal saya tercerahkan setelah sekian lama hanya bisa membaca dan mencoba PC di rental adalah ketika memiliki PC pertama itu.
Read the rest of this entry

Bikin Distro Linux Lagi? Capek Deh!

Tidak diragukan, dengan adanya kode sumber yang terbuka membuka peluang untuk modifikasi dan menelurkan varian-varian baru dari sebuah software. Termasuk pada distribusi Linux.

Saya tidak mempermasalahkan mengapa itu bisa terjadi, entah karena kreatifitas, menunjukkan eksistensi, mencari makan, kurang kerjaan, atau benar-benar terpaksa, tidak ada pilihan lain.

Saya cenderung mendukung yang membuat alternatif karena benar-benar terpaksa. Terpaksa karena yang satunya berkinerja buruk, terpaksa karena yang satunya proprietary, terpaksa karena yang satunya gak efisien.

Secara global, banyak sekali distro yang muncul, baik distro-distro gaek seperti Slackware dan Debian yang masih eksis hingga kini dan setia dengan filosofinya, maupun distro yang gak jelas masa hidupnya. Ada yang muncul dengan berita yang bombastis, eh terhenti saat rilis memasuki dua atau tiga.

Ada juga yang bikin distro karena ada proyeknya, ada duitnya, jadi harus bikin distro :-)

Ngapain bikin distro baru? Gak capek apa ngerjain pemaketan, artwork, dokumentasi, marketing, ngurusi komunitas, de el el.

Paling banter bedanya cuma, di striping, kayak motor :-) alias cuma kostum (custom(isasi)) saja alias cuma sekedar mengganti wallpaper, mengganti sound, merubah bahasa, re-branding (ini kerjaan orang lain bos!) dan mengklaim sebagai distro baru yang beda.

Saya salut jika pekerjaannya seperti apa yang dilakukan Ubuntu dengan Debian, Ubuntu (maaf saya jadikan bahan kasus) tidak sekedar mengganti tampilan Debian, tetapi juga merevolusi cara Debian (dan distro lainnya mengikuti) booting (dengan upstart), Ubuntu juga memberi makna baru bagi sebuah komunitas dan desktop Linux.

Distro-distro seperti Ubuntu tidak banyak jumlahnya.

Nah, kita kalau tidak mau menggunakan distro yang sudah ada dan ngotot ingin membuat distro sendiri … haruslah membuat sesuatu yang bagus, harus membawa sebuah revolusi, sebuah perubahan, bukan sekedar beda tampilan saja.

Bikin saja satu satu distro nasional (seperti RedFlag Linux di China), lalu para pengembang Blankon, ,igos, Tajdid, TeaLinux atau apalaginamadistro2lokal itu menyatukan tenaga, uang, waktu dll-nya untuk pengembangannya. Saya yakin efeknya akan lebih besar ketimbang kembali ke jaman kolonial ketika perjuangan dilakukan per-daerah dan sendiri-sendiri.

Kalau saja kita bisa kembali ke semangat sumpah pemuda 1928 dan membuat satu distro, bukannya menonjolkan bhineka distro tunggal kernel (ini segera akan berubah, karena Debian sudah memakai kernel freebsd), saya yakin, Indonesia akan mengalami percepatan dalam penggunaan Linux dan Open Source.

Tapi akankah kita bisa membuang ego dan berlapang dada?

Maaf, saya tidak yakin kita bisa :-)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 803 pengikut lainnya.