Arsip Kategori: Islam Kaffah
Perbuatan Iblis Pertanyaan Malaikat dan Keberadaan Manusia
Tiba-tiba saja pagi ini teringat dengan perbuatan Iblis yang menghempaskannya dari sisi-Nya yang dia cintai.
Tetapi, sebelum meneruskan kisah ini, aku ingin mohon maklum. Aku bukan ustadz, bukan orang yang taat, jadi tidak ingin berceramah cuma ingin membagi ledakan di kepalaku yang biasanya muncul di pagi hari, seperti kala ini.
Iblis dalam kitab-kitab suci dan tutur kata para Nabi, tersingkir dari sisi-Nya karena kecemburuan. Cemburu pada Adam, manusia yang tercipta dari tanah. Jika itu kecemburuan yang biasa karena merasa tersaingi dalam mengais cinta-Nya maka Iblis bisa dimaklumi, tidak bisa disalahkan. Tetapi sayang, kecemburuan Iblis adalah kecemburuan yang rasis, karena merasa diri tercipta dari bahan utama yang lebih baik dari tanah. Tetapi sayang, kecemburuan Iblis berbuah pembangkangan, menolak tunduk sebagai rasa hormat, bukan pada Adam, tetapi pada kehendak sang Khalik.
Kecemburuan, rasisme dan perasaan tersingkir membutakan hati dan pikirannya, bahwa sungguh, para malaikat bukan menunduk pada zat Adam, tetapi pada kehendak dan ilmu sang Khalik. Bahwa Dia yang menciptakan, bahwa Dia yang memberi pengetahuan, bahwa Dia yang mengangkat derajat, bahwa Dia …… Dia …… Dia …..lah sosok sesungguhnya yang dihormati para malaikat dan Iblis melalui ketundukan pada Adam.
Jika dibandingkan dengan para Malaikat, Iblis dalam pengetahuan dan keimanan tidak jauh berbeda. Sayangnya Iblis memiliki rasa berbangga diri yang berlebihan dan sikap tidak mau mengalah. Iblis memiliki pengetahuan tentang Dia lebih baik dari kebanyakan kita. Iblis mengenal Dia jauh lebih awal sebelum manusia mengenalnya. Jauh lebih banyak … pendek kata, dalam hal iman, Iblis lebih paham daripada manusia. Tetapi justru, iman itu bukan hanya sekedar tahu, tetapi juga ada ketundukan di dalamnya.
Iman bukan sekedar mencintai-Nya dan mengungkapkan rasa cinta dalam puisi-puisi, dalam falsafah, dalam tari-tarian, atau membakar surga dan neraka agar manusia berpaling darinya dan melihat sosok Dia yang menciptakan keduanya.
Iman bukan sekedar lagu-lagu Opik, Hadad Alwi atau Sulis.
Iman lebih dari itu.
Sanusi bukan sekedar membaca wirid, Rumi bukan sekedar menari, Rabiah bukan sekedar ingin membakar surga dan neraka, Al-Hallaj bukan sekedar menumpahkan darahnya, Siti Jenar bukan sekedar membangkang, Al-haddad bukan sekedar shalat tanpa henti.
Mereka orang-orang pilihan yang menuntun manusia kepada Dia yang ada dibalik segala lintasan hati, perkataan dan perbuatan.
Maka sia-sialah waktu-ku yang kuhabiskan dalam kemaksiatan. Aku tak menyalahkan Iblis yang menggoda atau nafsu yang menyesatkan. Aku menyalahkan kelemahan diriku yang tak sanggup menolak dan mau diseret, seperti kerbau yang dicocok hidungnya menuju penjagalan.
Dia ……. aku tahu ada disana, memberiku rasa sakit, kehilangan, kekhawatiran, ketakutan, kekurangan rezeki dan masalah-masalah. Dia …… aku tahu menatapku dari sana, memberiku rezeki berlimpah, kesehatan, dan segalanya, lagi-lagi sebagai cobaan bagiku, akankah menggunakannya untuk diriku dengan keegoisanku atau membaginya dengan orang lain sebagai wujud penyampaian amanah dari-Nya.
Yah, pengetahuan saja tidak cukup. Kita masih perlu Iman. Tunduk patuh, menyerah pasrah, melepaskan ego meraih Dia. Tak perlu ibadah yang dibuat-buat. Tidak perlu falsafah yang njelimet.
Jalan terbuka lebar, petunjuk ada di sepanjang jalan dan Dia ………. ada di ujung jalan.
Pintaku … janganlah Kau mati-kan aku tanpa sempat mencintaimu dengan sebenar-benar ketundukan.
