Arsip Kategori: Dari Ruang Tunggu

Siap-siap Pindah Rumah (Lagi)

Dua sampai tiga minggu ke depan adalah saat-saat terakhir menghuni rumah di Parempuan, milik kakak ipar. Rumah yang sekarang saya bangun berdua dengan menggunakan seluruh tabungan saya dan istri (lebih banyak tabungan istri :-(   -) dan setiap sen yang kami dapatkan di waktu-waktu berikutnya.

Membangun rumah juga bukan suatu hal yang menyenangkan untuk kami, karena modal yang pas-pasan, kami cuma bisa membangun rumah ukuran mini dengan dua kamar, dapur dan kamar mandi serta ruang tamu yang mini juga. Parahnya lagi kami tidak bisa melakukan finishing yang diperlukan seperti plester dinding, membuat daun pintu dan jendela, bahkan tangga masuk pun dilupakan. Listrik dan air PAM bahkan belum kami pikirkan bagaimana mengaturnya.

Pendek kata … nekad aja!

Belum lagi kondisi yang memanas di rumah karena uang habis untuk rumah sampai saya harus makan mi instan setiap hari (minimal untuk sarapan).

Rumah ini mini karena ukurannya tidak terlalu besar. Cuma 5 x 8 meter yang terdiri dari 2 kamar berukuran 3 x 3 m, kamar mandi berukuran 2 x 2 m yang menurut saya lebih dari lega untuk digunakan karena terasa lapang. Dapur menggunakan sisa space yang tak terpakai untuk kamar mandi, 2 x 3 m dan sisanya, 2 x 6 meter adalah ruangan di depan kamar yang akan dibagi untuk meja kerja saya, ruang tamu sekaligus ruang keluarga.

Konsep rumah ini kalau di bawa ke ranah arsitektur adalah tanpa konsep, karena kami membuatnya tanpa konsep sama sekali. Awalnya saya hanya ingin membangun rumah tanpa kamar dengan dapur dan kamar mandi saja. Jadi tengahnya merupakan ruang kosong yang nantinya, jika uang sudah terkumpul akan saya sekat  menjadi kamar-kamar menggunakan tripleks.

Well, meskipun cerita saya kedengarannya mengerikan, situasinya seburuk itu. Setidaknya, kami cuma bersitegang 3-5 hari kemudian mereda.  Faktanya juga, kami merasa bersyukur akhirnya … kepindahan mendatang adalah kepindahan yang terakhir setelah beberapa kali pindah rumah kontrakan.

Tulisan Paling Baru di Berugak – 02 Juni 2012

Saya membuat tulisan baru di Berugak Community, tentang instalasi desktop Linuxmint 13 MATE.

Niatnya sih cuma ingin ngetest aja di livecdnya, akhirnya kesengsem juga sama tampilannya yang mengingatkan akan desktop yang saya pake sebelum ubuntu berubah.

Baca saja panduan instalasi Linuxmint 13 MATE ini di weblog Berugak Community.

Tentang MATE bisa baca-baca di sini mate-desktop.org

Menulis

Tiba-tiba saja, pukul 4.57 pagi ini aku teringat Erlina, anak kelas J tetangga kelasku, temannya si Ayu, anak kelas F yang naksir aku tapi malah jadian dengan si Erlina, mak comblangnya. Kalau dipikirkan, ternyata kasus cinta segitiga kami ini sudah “layak” untuk diangkat ke layar kaca :-)

Well, disinilah semuanya bermula.

Erlina, perempuan yang dulu (aku lupa, soalnya ini kejadian tahun 1994 – kelas 3 smp) pernah aku ingat nama lengkapnya, pernah aku ingat bapaknya, kakaknya, ibunya, gang-gang menuju rumahnya, teman-temannya dan …… memberiku sesuatu yang merubah hidupku.

Seingatku, itu pada tahun baru, sore dia datang ke rumahku, memberikan hadiah yang harus aku buka tepat pukul 00.00 malamnya, karena jelas, dua anak bau kencur yang terpisah 4-5 km tidak mungkin bertemu tengah malam dan berbagi kado.

Semalaman aku paksa begadang, orang tuaku hanya senyam-senyum melihat tingkahku yang agak tidak biasa itu. Dan penantianku agak “mengecewakan” karena hadiah itu berupa diary.
Saat itu, aku tak tahu apa itu diary dan fungsinya, apaan sih, cuma buku tulis!

Esoknya kami bertemu, dia menjelaskan:
“Daripada kamu menulis surat, lebih baik kamu menulis disini, nanti kita tulis bersama”

Jadilah, aku  menulis, dia membalas, semuanya terdokumentasi di diary itu, yang sekarang entah kemana.
Puisi-puisi, prosa pendek (aku baru tahu tentang jenis-jenis tulisan saat di sma), atau kata-kata gombal mengisi diary itu. Duh, dimana ya hilangnya?

Aku yang anak kampung dan ingusan (tipikalku sebelum bertemu Erlina: ber-celana pendek, penggemar dangdut, jarang keluar rumah, pendek kata kuper abisssss) berubah sejak itu.
Aku mulai suka menulis, tetapi seperti saat ini, berupa kalimat-kalimat pendek, entah karena aku yang tak pandai merangkai kata atau aku yang memang sulit menuangkan pikiranku dalam kata-kata panjang dan bertele-tele atau memang karena aku yang pada dasarnya “quiet” ini.

Beberapa saat setelah putus, yah …. gitu deh. Aku lupa menulis, sibuk dengan sekolah baruku, teman-teman baru, dunia yang lain dari yang lain, masa-masa yang paling indah, masa-masa di sma.

Sekarang, menulis adalah keinginanku. Aku ingin memiliki buku-ku sendiri, aku ingin menerbitkannya dan inilah aku, menulis sepagi ini tanpa tahu ujung tulisan ini karena isi kepalaku yang tiba-tiba teringat Erlina.

Dan seperti biasa, tulisan ini juga sangat pendek, well its me :-)

Dia yang kulupakan, sesungguhnya, memberikan bekas yang luar biasa padaku.
Jika kau bertemu, katakan padanya, maafkan aku karena hanya mengingat nama panggilannya saja, katakan, aku berterima kasih.

Admin Baik, Setengah Baik, Jadi-jadian, Sok Tahu dan Palsu

Sebenarnya banyak masalah yang menyumbat kepala saya. Dan saya mungkin akan susah tidur jika belum menuliskannya.

Satu masalah yang membuat saya memahami pekerjaan seorang admin, bahwa admin itu bisa saja menjadi sesuatu yang sulit, bisa juga menjadi sesuatu yang sangat mudah.  Saya teringat dengan seorang kawan yang bahkan, dirinya sendiri tidak bisa mengakses facebook. Lucu dan jarang sekali, seorang admin mengunci dirinya sendiri, sama seperti orang lain. Saya menaruh rasa hormat untuk admin seperti ini, apalagi jika apa yang dilakukannya itu dikerjakan tanpa gerutuan ;-)

Seorang kawan juga mengalami dan saya yakin yang lain juga pernah, ketika kebebasannya yang berkaitan dengan internet dibatasi. Adalah lucu sekali ketika anda mengakses eramuslim.com dan akan muncul pesan di browser anda, forbidden!

Dan lucu juga ketika sebuah institusi pendidikan, yang memiliki hotspot yang biaya berlangganannya, apakah digunakan atau tidak, tetap dibayar dan jumlahnya tetap, mahasiswanya hanya bisa mengakses halaman google saja (entah kabar ini benar/tidak karena saya mendengarnya dari teman yang mendengar dari adiknya). Apakah sebuah koneksi internet hanya sekedar untuk gagah-gagahan belaka?

Dan saya juga, itba-tiba menyadari, saya sudah menginstall netcut, anti netcut, cain abel, dan browsing bagaimana melakukan load balancing koneksi dialup smart (yang saya bayar 50rb/bln) dan koneksi lan dari kantor yang, jika koneksinya bagus, adminnya datang – koneksi kantor langsung mati. Atau sebaliknya. Menyenangkankah hidup seperti ini?
Bagi saya tidak menyenangkan, bukan hanya karena saya tidak terlalu berminat dengan wardriving, dan lainnya, tetapi karena masih banyak film-film drama yang menuntut perhatian saya. Dan saya masih selalu membawa modem hp smart saya, meskipun lelet :-)
Dan saya bukan orang yang nyaman saat melakukan konfrontasi.

Saya juga teringat dengan sebuah warnet, yang dikelola oleh seorang admin yang sibuk sekali. Saya katakan sibuk, karena setiap saya mampir, pasti ada perubahan pada konfigurasi jaringannya. Hari ini menggunakan dns speedy, esoknya menggunakan dns google, esoknya menggunakan dns nawala, esoknya lagi, saya harus menekan tombol refresh untuk mengakses situs-situs yang baru pertama kali saya kunjungi (karena proxy cachenya belum ada).
Bayangkan, bagaimana konsumen bisa nyaman dengan keadaan seperti ini?
Akhirnya, suatu hari saya tidak datang ke warnet ini lagi, karena …….. warnetnya tutup, bangkrut.

Admin yang baik, admin yang setengah baik, admin yang usil, admin yang sok tahu dan admin jadi-jadian. Permudahlah hidup anda, sungguh anda menyedihkan jika setiap hari meluangkan waktu untuk ngoprek jaringan anda sendiri. Dan membuat sengsara hidup orang lain atau paling buruk, jaringan anda down :-P
Menyedihkan!

Kita yakin bahwa setiap orang berhak mendapatkan informasi seluas-luasnya, saya yakin bahwa setiap orang bisa diajak berpikir dan bertindak dewasa, mari gunakan 90% pendekatan sosial daripada pendekatan teknis untuk memperlancar pekerjaan anda.
Justru disinilah letak kekurangan seoarang admin, lack of social life! Jadi belajarlah, dan saya yakin, setiap orang bukanlah musuh!

Koneksi internet juga bukanlah sekedar untuk gagah-gagahan belaka, mari, ketika kantor anda tutup, nyalakan jaringan anda, hilangkan form login wifi anda, bagi koneksi internet anda dengan publik, dan saya yakin, anda akan mendapatkan respek sosial yang anda harapkan. Bukankah biaya berlanganan anda tetap? Bukankah anda memiliki program kepedulian untuk masyarakat? Itu loh, memperkuat positioning perusahaan dengan mengembalikan keuntungan perusahaan kepada masyarakat dalam bentuk proyek-proyek kemasyarakatan.

Benarkah Indonesia Tidak Penting di Mata AS?

Berikut saya kutip analisa seorang R William Liddle Profesor Ilmu Politik, The Ohio State University, Columbus, Ohio, AS. Pernyataan ini dimuat di harian kompas, dan saya kutip dari situs eramuslim.com. Dalam pernyataan berikut dikatakan betapa tak berharganya Indonesia di mata AS, dan sekedar saran untuk menghibur kita :-) . Berikut pernyataan yang memang realita tetapi menurut saya agak “melenceng” dari kenyataan sebenarnya.

“Barack Husein Obama adalah Presiden Amerika Serikat pertama yang sempat tinggal di Indonesia pada masa kecilnya. Ketika beliau dilantik hampir dua tahun silam, kepeduliannya kepada Indonesia diharapkan lebih besar ketimbang pendahulu-pendahulunya di Gedung Putih.

Sebagai pengamat yang sudah manula, yang sempat menilai kebijakan semua presiden AS kepada Indonesia sejak John F. Kennedy, saya sendiri pada awalnya tidak meragukan keistimewaan Obama dalam hal ini.

Namun, kepedulian seseorang secara pribadi dan perhatiannya sebagai presiden adalah dua hal yang bisa berbeda jauh. Dalam hubungan Indonesia-Amerika, ada alasan kuat untuk bersikap skeptis terhadap dampak jangka panjang kunjungan Obama, yang telah tertunda berkali-kali dan kini dijadwalkan hanya satu atau dua hari saja.

Singkat saja: posisi Indonesia terletak jauh di bawah posisi Amerika dalam percaturan politik global masa kini. Di panggung dunia, Indonesia belum menjadi pemain sedang, apalagi besar. Lebih terperinci, sumber daya politik yang dimiliki Indonesia dan bisa dimanfaatkan untuk membantu atau melawan Amerika, tentu demi mengajukan kepentingan Indonesia sendiri, masih sangat sedikit dibandingkan dengan negara-negara lain. Kenyataan itu berarti bahwa Indonesia gampang dilupakan atau dikesampingkan pemain lain.

Reputasi melonjak

Contoh penting adalah bidang ekonomi. Salah satu keperluan utama Amerika kini adalah pemulihan laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri setelah keguncangan krisis perbankan tiga tahun lalu. Terus terang saja, di Asia hanya China yang bisa membantu kami. Ekonominya bertumbuh pesat setelah pergeseran kebijakan ekonomi dari komunis ke kapitalis tiga dasawarsa lalu. Jadi, tidak sulit dipahami kalau Obama memprioritaskan China dalam perjalanan pertamanya ke Asia tahun lalu. Seandainya bank-bank Indonesia berlimpah dollar, Obama pasti sudah lama mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma.

Contoh penting kedua adalah konflik Amerika dengan gerakan-gerakan Islam radikal yang mengancam keamanan nasional kami. Negara saya sedang berperang di Irak dan Afganistan yang bisa dirunut pada serangan Al Qaeda di New York dan Washington pada 11 September 2001. Sejak itu, masyarakat Amerika merasa amat terancam oleh kelompok Islam radikal. Perlawatan Obama ke India kini harus dilihat sebagian dalam rangka itu sebab kerja sama Pakistan, musuh bebuyutan India selama puluhan tahun, sangat diperlukan dalam perang Amerika di Afganistan. Harapan Obama, obsesi Pakistan dengan ancaman India bisa diredakan sedikit demi sedikit kalau Amerika menjadi perantara di belakang layar.

Sejauh mana Indonesia bisa membantu Amerika, sekali lagi dalam rangka mengajukan kepentingannya sendiri? Selama ini, khususnya sejak awal masa pemerintahan Presiden Yudhoyono tahun 2004, usaha-usaha dua pemerintahan kita terjalin rapat, khususnya terhadap kelompok Islam radikal. Banyak gembong Jemaah Islamiyah yang terlibat tindakan teroris dibunuh atau ditangkap dan diadili. Reputasi Indonesia melonjak sebagai negara bermayoritas Muslim yang paling berhasil melenyapkan jaringan teroris.

Namun, kerja sama dalam bidang ini terbatas. Indonesia adalah masyarakat Muslim terbesar di dunia serta negara demokratis terbesar ketiga, setelah India dan Amerika. Namun, hal itu tidak berimplikasi bahwa Indonesia berpengaruh di Timur Tengah, Asia Tengah dan Selatan, tempat tinggal sebagian besar umat Islam di dunia. Klaim banyak pengamat dan pejabat bahwa Indonesia adalah semacam role model, suri teladan, bagi kekuatan prodemokrasi di dunia Muslim sama sekali tidak bergema di negara-negara bersangkutan. Pidato pertama Obama yang dialamatkan kepada umat Islam diucapkan di Kairo, bukan di Jakarta. Mesir diakui umum sebagai salah satu pusat peradaban Islam meskipun kini dikuasai diktator kejam yang tidak disukai di Washington.

Lebih sabar

Pembaca Indonesia, harap jangan salah sangka. Saya tidak bermaksud menyepelekan Indonesia atau kunjungan presiden saya. Justru sebaliknya: saya ingin menaruh kunjungan tersebut dalam kerangka realistis agar orang Indonesia menjadi lebih sabar sekaligus lebih gesit dalam pendekatannya kepada pemerintahan Obama.

Setelah jatuhnya Orde Baru, Indonesia sudah masuk sepenuhnya dalam sebuah proses modernisasi bersejarah yang akan menentukan masa depannya selaku negara kebangsaan dan pemain internasional yang berbobot. Proses itu mengandung dua dimensi utama: pendirian lembaga-lembaga politik yang demokratis serta lembaga-lembaga ekonomi yang ramah kepada pasar domestik dan global.

Pemerintah Amerika, di bawah seorang presiden yang bersimpati secara pribadi, bisa membantu banyak, misalnya melalui proyek-proyek bersama yang sedang ditingkatkan atau dirumuskan baru di bidang-bidang pendidikan, perlindungan lingkungan alam, perubahan iklim, perdagangan, dan penanaman modal.

Namun, hasil maksimal akan bergantung kepada kesadaran orang Indonesia bahwa Amerika, termasuk presidennya, gampang terdistraksi. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat Indonesia sebaiknya bersikap eling dan waspada, bersiap-siap terus untuk mengelola dan mengarahkan kebijakan Amerika demi pencapaian tujuan-tujuan Indonesia.”

Mengapa saya mengatakan bahwa pernyataan Profesor yang seorang Indonesianis dan Yahudi ini seolah-olah menutupi kenyataan sebenarnya? Ada beberapa alasan. Tapi kita lihat dulu asumsi yang digunakan Prof. Liddle dalam analisanya:

  1. Menganggap bahwa Indonesia “perlu” menjalin hubungan yang mesra dengan AS
  2. Bahwa Indonesia memiliki “ketergantungan” dengan AS
  3. Bahwa sebagai “pemimpin dunia” , perhatian dari AS sangat dibutuhkan Indonesia
  4. Pendek kata, pandangan ini benar-benar AS-sentris. Saya tidak menyalahkannya, karena bisa saja pandangan seperti ini muncul dengan melihat tingkah laku “pemimpin-pemimpin” Indonesia yang tidak genah.

Sebaliknya, saya melihat bahwa AS memiliki banyak sekali kepentingan di Indonesia.

Cara paling mudah untuk memastikannya adalah dengan menyingkirkan dan membatalkan kontrak-kontrak perusahaan AS yang ada di Indonesia. Batalkan dan usir saja Freeport, Newmont, Exxon Mobile dan perusahaan-perusahaan lain itu dan kita lihat, apakah Indonesia masih tidak berharga?

Mmmm, pengen lihat pemimpin yang berani berbuat begitu. Mudah-mudahan “pemimpin-pemimpin” yang palsu, jahat dan meng-gendutkan perut sendiri ini cepat mati, disambar petir kek, di telan merapi boleh juga. Sehingga Indonesia bisa bangkit dari keterpurukannya dan mengelola diri lebih baik :-)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 803 pengikut lainnya.